Abu Dujana

Polisi Kejar Pelaku Bom Kuningan

SUBANG, (PR).-
Lagi-lagi, aparat kepolisian di wilayah Subang dibuat sibuk dengan adanya laporan keberadaan kelompok teroris yang diduga merupakan pelaku aksi peledakan di depan Kedubes Australia di Jakarta atau yang dikenal dengan peristiwa Bom Kuningan. Kelompok aksi sejumlah teror di Indonesia ini, diduga kuat bersembunyi di sebuah perkampungan di Kampung Banggal II, Desa Banggalamulya Kecamatan Cipeundeuy, Kab. Subang.

Namun, ketika jajaran Polwil Purwakarta dan Polres Subang akan menangkap mereka, Sabtu (15/1), kelompok berjumlah enam orang itu telah melarikan diri ke arah perbukitan perbatasan antara Kecamatan Sagalaherang Subang dan Kecamatan Wanayasa Purwakarta.

Terungkapnya kelompok berjumlah enam orang yang diduga sebagai pelaku teror di sejumlah tempat di negara ini, berawal dari kecurigaan warga terhadap sepak terjang pelaku. Salah satu di antara anggota kelompok itu diduga telah melakukan pelecehan seks terhadap salah seorang warga dan perbuatan itu yang menyebabkan terbongkarnya tempat persembunyian kelompok ini.

Ceritanya, saat dua orang suami istri S dan SH tengah bercengkrama di sebuah huma, tiba-tiba dua orang anggota kelompok itu mengalungkan clurit ke suaminya. Tidak hanya sampai di situ saja, istrinya oleh pelaku dipaksa untuk memegang alat kelamin salah seorang pelaku.

Menurut keterangan warga, kelompok ini sebenarnya sudah hampir seminggu bermukim di perkampungan Banggala, namun keberadaan kelompok itu mulai terkuak setelah masyarakat di sana gempar dengan perbuatan tidak senonoh yang dilakukan salah seorang anggotanya. Selain itu, tiga anggota kelompok ini sering turun gunung untuk membeli keperluan hidup sehari-hari dan berhubungan dengan dunia luar.

Setelah timbul keresahan di perkampungan Banggala II akibat tindakan senonoh yang dilakukan salah seorang anggota kelompok ini, warga segera melaporkannya ke Polsek Cipeundeuy. Dari sana berkembang ketika polisi menyodorkan sejumlah foto para pelaku teroris, salah seorang warga ada yang mengenali satu dari tiga orang yang sering turun gunung untuk bersosialisasi dengan warga menunjuk foto Abu Dujana yang merupakan salah satu pelaku peledakan Bom Kuningan beberapa waktu yang lalu.

Salah seorang warga Dableng (40), warga Kampung Babakancingcaw Desa/Kec. Cipeundeuy, Subang ketika ditemui di perkampungan Benggala II menuturkan, dirinya sudah dua kali berkomunikasi dengan Abu Dujana yang sering turun gunung untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan ia sempat mendengar salah seorang rekan Abu Dujana yang sering turun gunung berkomunikasi dengan seseorang yang mengaku berada di Lembang, Kab. Bandung.

“Saya sudah dua kali ngobrol dengan Abu Dujana dan ketika disodorkan foto pelaku peledakan bom Kuningan saya langsung menunjuk foto Abu Dujana itu,” ujarnya.

Kesaksian Dableng ini pun diamini warga yang lain. Seperti diungkapkan Sali (45) dan Saud (50), warga Kampung Cigarung Desa Banggalamulya dan Saud. Mereka menuturkan, tiga orang dari enam anggota kelompok ini sering turun ke perkampungan penduduk untuk membeli sesuatu seperti rokok dan makanan ringan lainnya. Di antara tiga orang yang sering ke perkampungan pendudukan itu bisa berkomunikasi dalam Bahasa Sunda. Bahkan tiga orang pelaku itu sempat mendatangi sebuah makam kramat di Kampung Selaawi, Desa Cimayasari Kecamatan Cipeundeuy Subang.

Makam kramat

“Saya tidak mengira salah seorang pelaku itu merupakan pelaku pengeboman Kuningan yang sempat menghebohkan itu karena sepak terjang mereka awalnya tidak menimbulkan kecurigaan warga. Bahkan mereka cerita pernah mendatangi makam kramat di Selaawi,” ujar Sali yang diamini Saud.

Setelah menerima pengaduan dari sejumlah warga yang membenarkan salah satu pelaku merupakan Abu Dujana, polisi setempat langsung menghubungi Polres Subang dan Polwil Purwakarta.

Kepolisian kemudian membentuk tiga regu. Regu pertama dipimpin Kapolwil Purwakarta Kombes Pol. Tb. Moh. Chanafi menyusuri Gunung Cijuray. Regu kedua menyusuri Gunung Sepang dipimpin Wakapolres Subang Kompol Amur Chandra dan regu ketiga menyusuri bukit Cigebang dipimpin Kasatrekrim Polres Subang AKP Wagiono. Kedua gunung dan satu bukit itu berada di dalam areal yang tak jauh dari Benggala II yang diduga merupakan jalur pelarian keenam anggota kelompok tersebut.

Pada Sabtu (15/1) dini hari ketika pasukan polisi hendak menggerebek sebuah saung yang berada di kawasan huma yang tak jauh dari perkampungan Benggala II, keenam anggota kelompok Abu Dujana itu sudah melarikan diri. Akhirnya dibentuk tiga regu yang sekira pukul 6.00 WIB langsung menyusuri dua gunung dan satu bukit guna menggulung keenam anggota kelompok Bom Kuningan.

Hingga pukul 15.00 WIB ketika tim selesai melakukan penyisiran, anggota kelompok itu sudah kabur entah ke mana.

Kapolres Subang AKBP Agnes Supraptiningsih ketika dihubungi membenarkan adanya upaya penangkapan terhadap kelompok teroris ini setelah mendapat informasi dari masyarakat. Rupanya ketika akan diadakan penangkapan, kelompok teroris ini melarikan diri. Meskipun demikian, setelah target operasi tidak berada di tempat, Polwil Purwakarta kemudian membentuk tiga regu yang langsung melakukan penyisiran ke sejumlah tempat yang diduga dijadikan arah untuk melarikan diri.

Polisi Berusaha Kepung Abu Dujana
TEMPO Interaktif, Jakarta: Polisi terus meningkatkan operasi untuk menangkap tersangka gembong teroris Abu Dujana dan kaki tangannya di Jawa Tengah. Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror menggerebeg beberapa tempat di Karang Anyar dan Sukoharjo serta melakukan serangkaian penangkapan, Minggu dini hari, kemarin.
Salah satu yang tertangkap adalah tersangka teroris, Aris Widodo, di rumahnya di Dusun Tingu RT 2/4, Desa Tegal Gede, Karang Anyar.
Selain itu beredar informasi ada beberapa orang lainnya berhasil dicokok petugas.
Namun aksi polisi di Sukoharjo gagal total. Taqwimbillah, yang diincar polisi, sudah meninggalkan rumahnya sebelum aparat datang ke kediamannya di Dusun Tangkil Baru RT 02 RW VII, Kelurahan Manang, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, pukul 02.00 dini hari.
Sehari sebelumnya, polisi berhasil menangkap Yusron Ahmahmud alias Mahfud di Banyumas.

Wajah Yusron Mirip Abu Dujana

Banyumas (ANTARA News) – Wajah Yusron Mahfudi memiliki kemiripan dengan wajah Abu Dujana, kata Mukhlisin, warga Desa Kebarongan, Kemranjen, Banyumas, Jateng.
“Wajah Mahfud (Yusron) memiliki kemiripan dengan wajah ini,” katanya, saat disodori foto wajah Abu Dujana oleh wartawan, Minggu malam.
Menurut dia, kemiripan Yusron dengan Abu Dujana sekitar 85 persen.
Perbedaannya Yusron memiliki dagu yang kecil, sedangkan Abu Dujana agak lebar.
Rambut Abu Dujana lebih lebat dibanding dengan rambut Yusron yang tipis karena sering pakai kopiah (peci), katanya.
“Saya sering memperhatikan setiap dia shalat di mushala,” katanya di antara kerumunan warga yang sedang berkumpul di depan rumah Yusron untuk berjaga.
Pendapat serupa juga dikemukakan Samsul, warga lainnya yang juga ikut berjaga malam.

Polri Tangkap Abu Dujana Alias Yusron
Jakarta (ANTARA News) – Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Sisno Adiwinoto mengatakan Polri telah berhasil menangkap tersangka berbagai aksi terorisme di Indonesia, Abu Dujana, yang ternyata adalah Yusron beserta tujuh anak buahnya.
“Penangkapan tersebut dilakukan oleh Tim Mabes Polri di beberapa tempat di Jawa Tengah dan Yogyakarta, kata Sisno di Jakarta, Rabu.
Ia mengatakan kepastian tertangkapnya Abu Dujana tersebut diperoleh setelah polisi memeriksa intensif Yusron yang tertangkap di Banyumas, pada Sabtu lalu (9/7).
“Setelah diperiksa secara intensif pemeriksaan sidik jari dan dikonfrontasikan ke pihak lain ternyata Yusron adalah Abu Dujana,” katanya.
Ia mengatakan polisi belum dapat memastikan Abu Dujana saat penangkapan karena warga Cianjur ini memiliki banyak nama, yakni Pak Guru, Mas Ud, Ainul Bachri, Thorim, Sobirin dan Dedi.
Sisno menjelaskan nama yang berlainan tersebut selalu dipakainya dan nama Abu Dujana sendiri hanya dipakai dalam komunitas terdekatnya, sedangkan dengan pihak lain selalu memakai nama yang berlainan.
Setelah tertangkapnya Abu Dujana, maka polisi menangkap tujuh tersangka lain yakni AI (45), NA (33), IAN (17), NFAS (19), AM (33), AW (31), AS (29). Namun demikian, Polri belum dapat menyebutkan lokasi penangkapan ketujuh tersangka karena masih dipakai untuk memburu tersangka lainnya.
Sisno mengatakan penangkapan Abu Dujana di Banyumas merupakan hasil olah keterangan anak buahnya yang telah tertangkap Februari 2007 lalu di Sleman. Dari keterangan itulah polisi mendapatkan Yusron yang tidak lain adalah Abu Dujana.

 

Leave a comment »

Kecoa (2)

SEMUA orang tahu kecoa. Setiap kali melihatnya orang cenderung bereaksi dengan perasaan jijik. Bahkan tak segan membunuhnya. Kecoa memang banyak terdapat di sekitar kita. Pada umumnya kecoa tinggal di rumah-rumah atau tempat-tempat tersembunyi, memakan hampir segala macam makanan. Baunya yang tidak sedap ditambah kotoran dan kuman yang ditinggalkan di setiap tempat yang ia hinggapi, membuat manusia menyebutnya sebagai binatang yang menjijikkan. Tak heran, keberadaan kecoa dianggap sebagai indikator sanitasi yang buruk.

Kecoa kebanyakan hidup di daerah tropis yang kemudian menyebar ke daerah sub tropis, bahkan sampai ke daerah dingin. Serangga yang hidupnya mengalami metamorfosis tidak sempurna ini memang sangat menyukai tempat-tempat yang kotor dan bau. Bergelut dengan kotoran dan bau tidak menjadikan kecoa rentan terhadap penyakit. Sebaliknya, serangga ini justru termasuk serangga yang mampu bertahan hidup dalam kondisi ekstrem. Kemampuan beradaptasinya tidak perlu diragukan lagi.

Sebuah penelitian baru mengungkapkan bahwa tubuh kecoa, sama seperti manusia, menjadi ringkih di usia tua. Para periset di Amerika — yang meneliti kondisi berbagai jenis serangga di usia tua — menemukan bahwa kecoa di usia lanjut mengalami kesulitan merangkak akibat sendi-sendi yang kaku. Kecoa biasanya bisa hidup sampai usia lanjut — sebagian malah mencapai 60 minggu — namun kecoa didapati mengalami kesulitan

Bagi kecoa kebersamaan mungkin menjadi sesuatu yang sangat penting. Saat harus mengambil keputusan, kecoa akan bersikap seperti seorang Musketeer, yang memiliki prinsip semua menjadi satu dan satu untuk semua.

KECOA, binatang yang dianggap sebagai pengganggu, ternyata memiliki banyak keunggulan, yang membuatnya tetap eksis sejak 300 juta tahun lalu. Terutama sistem senso-motorik kecoa menarik perhatian para ahli, dan rematik pada kakinya. Selain itu kemampuan adaptasi kecoa dalam lingkungan paling ekstrim, amat mengagumkan. Serangga besar ini, sudah ada di muka Bumi sejak 300 juta tahun lalu. Para ahli biologi bahkan memperkirakan, jika terjadi bencana atom di muka Bumi, salah satu makhluk hidup yang akan tetap eksis adalah kecoa.

Tapi yang sangat mengagumkan, kecepatan reaksi sistem senso-motoriknya dalam menanggapi rangsangan dari luar. Jika sistem penala getaran di kaki belakang atau antena di kepala mendapat rangsangan tiba-tiba, reaksinya terjadi hanya dalam waktu 15 sampai 20 milidetik. Atau lebih cepat dari kedipan mata, kecoa sudah lari dan menghilang di bawah lemari atau meja.

Penelitian dalam berbagai situasi menunjukkan kecoa tua ternyata kehilangan koordinasi terhadap kedua sistem saraf motoriknya. Tapi, ketika kecoa tua dipotong kepalanya, gerakan motoriknya menjadi pulih kembali seperti kecoa muda. Berbagai penelitian tersebut, bermanfaatnya bagi penelitian proses penuaan pada manusia. Sebab proses penuaan pada kecoa, mirip dengan proses penuaan pada manusia.

Leave a comment »

Kecoa

Kenapa aku pakai nama KECOA.

Kecoa binatang menjijikan bagi sebagian besar orang, itupun harapan aku untuk blog ini, mungkin sebagian besar orang akan merasa jijik, terganggu dan muak membaca blog ini.

Kecoa binatang dengan seribu nyawa tidak akan mati jika hanya diinjak atau diputus kepalanya, tapi harus dihancurkan sehancur-hancurnya baru mati, demikian juga harapan aku agar blog ini dapat tetap bertahan

Kecoa ada dimana-mana tempat bersih ataupun kotor, demikian juga blog ini hadir dimana-mana ditempat-tempat yang tidak terduga dan diharapkan.

Semoga blog ini menjadi blog yang biasa-biasa dan untuk orang yang biasa-biasa saja.

Susah – senang itu biasa

Sedih – gembira itu biasa

Tangis – tawa itu biasa

Biasa-biasa itu memang biasa dan semoga tetap biasa

Comments (1) »