Kecoa (2)

SEMUA orang tahu kecoa. Setiap kali melihatnya orang cenderung bereaksi dengan perasaan jijik. Bahkan tak segan membunuhnya. Kecoa memang banyak terdapat di sekitar kita. Pada umumnya kecoa tinggal di rumah-rumah atau tempat-tempat tersembunyi, memakan hampir segala macam makanan. Baunya yang tidak sedap ditambah kotoran dan kuman yang ditinggalkan di setiap tempat yang ia hinggapi, membuat manusia menyebutnya sebagai binatang yang menjijikkan. Tak heran, keberadaan kecoa dianggap sebagai indikator sanitasi yang buruk.

Kecoa kebanyakan hidup di daerah tropis yang kemudian menyebar ke daerah sub tropis, bahkan sampai ke daerah dingin. Serangga yang hidupnya mengalami metamorfosis tidak sempurna ini memang sangat menyukai tempat-tempat yang kotor dan bau. Bergelut dengan kotoran dan bau tidak menjadikan kecoa rentan terhadap penyakit. Sebaliknya, serangga ini justru termasuk serangga yang mampu bertahan hidup dalam kondisi ekstrem. Kemampuan beradaptasinya tidak perlu diragukan lagi.

Sebuah penelitian baru mengungkapkan bahwa tubuh kecoa, sama seperti manusia, menjadi ringkih di usia tua. Para periset di Amerika — yang meneliti kondisi berbagai jenis serangga di usia tua — menemukan bahwa kecoa di usia lanjut mengalami kesulitan merangkak akibat sendi-sendi yang kaku. Kecoa biasanya bisa hidup sampai usia lanjut — sebagian malah mencapai 60 minggu — namun kecoa didapati mengalami kesulitan

Bagi kecoa kebersamaan mungkin menjadi sesuatu yang sangat penting. Saat harus mengambil keputusan, kecoa akan bersikap seperti seorang Musketeer, yang memiliki prinsip semua menjadi satu dan satu untuk semua.

KECOA, binatang yang dianggap sebagai pengganggu, ternyata memiliki banyak keunggulan, yang membuatnya tetap eksis sejak 300 juta tahun lalu. Terutama sistem senso-motorik kecoa menarik perhatian para ahli, dan rematik pada kakinya. Selain itu kemampuan adaptasi kecoa dalam lingkungan paling ekstrim, amat mengagumkan. Serangga besar ini, sudah ada di muka Bumi sejak 300 juta tahun lalu. Para ahli biologi bahkan memperkirakan, jika terjadi bencana atom di muka Bumi, salah satu makhluk hidup yang akan tetap eksis adalah kecoa.

Tapi yang sangat mengagumkan, kecepatan reaksi sistem senso-motoriknya dalam menanggapi rangsangan dari luar. Jika sistem penala getaran di kaki belakang atau antena di kepala mendapat rangsangan tiba-tiba, reaksinya terjadi hanya dalam waktu 15 sampai 20 milidetik. Atau lebih cepat dari kedipan mata, kecoa sudah lari dan menghilang di bawah lemari atau meja.

Penelitian dalam berbagai situasi menunjukkan kecoa tua ternyata kehilangan koordinasi terhadap kedua sistem saraf motoriknya. Tapi, ketika kecoa tua dipotong kepalanya, gerakan motoriknya menjadi pulih kembali seperti kecoa muda. Berbagai penelitian tersebut, bermanfaatnya bagi penelitian proses penuaan pada manusia. Sebab proses penuaan pada kecoa, mirip dengan proses penuaan pada manusia.

Say your words